Hari Minggu yang
kelebih panas itu memang cocok sekali untuk suasana yang kaku dan sedikit
mencekam itu. “Bagaimana ini? nilai matematikanya kok jelek banget”, ucap mama
tiba – tiba sambil menyetrika baju, “hmm? Nilai apa ma?”, jawabku sambil
menekan tombol remote tv. “udah jelas kan? Ya nilai UTS nya lah!”, kata mama
dengan sedikit meninggikan nadanya.
Seketika aku pun mengalihkan pandanganku dari tv ke mama “ma,
kita kan udah bahas ini seminggu yang lalu..udahlah gak usah dibawa-bawa
lagi..”, kataku dengan nada sedikit memelas. “ck.. kalo soal kayak gini ya gak
bisa dilupain begitu aja dek!”, ketus mama. “dek, mama bilangin ya? Kelas 3 itu
sudah penentuan, kamu itu harusnya lebih rajin lagi! Jangan main laptop terus
tiap hari!”, seru mama. “kamu ini! sarana kamu itu udah lengkap! Ada buku,
laptop, sama internet. Harusnya sarana itu kamu manfaatkan buat pelajaran!
Bukannya malah di buat main game mulu tiap hari!!” Ucap mama panjang lebar.
Aku yang terdiam saja sedari tadi akhirnya membalas perkataan
mama “ma! Aku itu nyalain laptop itu gak cuma main game, aku juga ngerjain
tugas ma! Ak-” “ah! Kalau kamu pakai laptop sama internet ini cuma buat main
aja, mending di jual aja!” potong mama yang gak mendengarkan ucapanku sama
sekali. “kalau kamu kayak gini terus, udah deh gak usah diterusin ke RSBI
lagi..”, ucap mama.*
Rasanya seperti lidah ini udah gak bisa membalas perkataan
mama, akhirnya aku pun diam saja. Remote tv yang tadi kupegang sekarang
terbengkalai di meja, tidak ada satupun dari kita yang melihat tv yang masih
menyala saat itu, mama karena sedang sibuk menyetrika dan aku yang masih
sedikit linglung dengan ucapan mama. “waktu jaman mama dulu ya, buku itu gak
mampu beli, gak kayak kamu sekarang.. fasilitasnya lengkap..”, mulai mama.
“gini ya, anaknya temen mama itu ada yang dapat nilai
matematika sempurna, tapi tetep aja gak bisa masuk SMA negeri. Nah, dia aja gak
bisa, gimana kalau kamu?!”, kata mama tanpa sadar mencelaku. Saat dengar kata –
kata itu pun, aku langsung berdiri dari kursi tanpa mengucapkan sepatah katapun
dan langsung menuju kamar dan pura – pura tidak mendengar mama yang tidak henti
– hentinya mengomel.
Saat di kamar aku pun langsung membantingkan tubuhku ke kasur
dan menangis, perasaanku rasanya campur aduk antara marah dan sedih. Mungkin
aku bisa dibilang cengeng, karena menangis hanya karena hal seperti itu saja.
Semuanya berawal karena pembagian raport sisipan yang dibagikan sekitar satu
Minggu yang lalu. Saat aku tunjukkan kepada papa dan mama, papa hanya bilang
“nah, ini pertanda kalau kamu harus lebih rajin belajar lagi..”, sedangkan mama
sudah mengomel saja dari satu minggu yang lalu, terutama tentang nilai
matematika ku karena paling jelek dari nilai yang lain.
Kalau melihat sifat mama sih aku sudah memaklumi kalau mama
itu pasti susah melupakannya begitu saja. Tapi... mama sudah mulai membanding –
bandingkanku dengan anak dari teman mama itu. Kalau aku itu dimarahi seberapa
saja masih kuat, tetapi kalau sudah mulai dibandingkan sama orang lain itu
pasti saja ada rasa perih dalam hati seperti mencabik – cabik tubuhku.
Sudah terasa berjam – jam aku merenungkan diri di kamar,
daftar ambisiku yang sudah banyak itu pun bertambah satu lagi. Aku berambisi
untuk menjadi jauh lebih baik, dan jauh melebihi apa yang diharapkan oleh mama.
Mungkin saat ini aku layaknya sebuah rumput kecil tak berguna, tetapi tunggu
saja.. tidak lama lagi aku kan mekar dan menjadi bunga yang anggun dan berguna.
Setelah aku memantapkan hati, aku pun keluar dari kamarku.
Aku memang sengaja berjalan dan menghindari tatapan mama yang seperti tusukan
belati itu. Karena aku tahu, setelah debat kecil itu pasti akan terasa kaku
saat berbicara dengan mama. Hari pun kulanjutkan tanpa berbicara dengan mama
sama sekali.
Keesokan harinya keadaanku dengan mama masih terasa kaku,
sehingga aku tak berbicara kepada mama kecuali untuk meminta izin berangkat ke
sekolah. Saat di sekolah aku pun curhat kepada temanku tentang keteganganku
dengan mama untuk menenangkan hatiku. Setelah berbicara dengan temanku itu, aku
merasa menyesal dan berpikir ‘kayaknya, aku harus minta maaf deh sama mama...’.
Tapi karena nyaliku yang ciut itu aku pun tidak berani meminta maaf kepada mama
sampai keesokan harinya.
Hari selanjutnya ketika jam pelajaran, tiba – tiba hpku
bergetar karena ada pesan. Betapa terkejutnya diriku ketika melihat kalau pesan
itu dari mama. Aku pun membuka pesan itu secara diam – diam agar guru tidak
melihat. Pesan itu berbunyi “dek, maafin mama ya.. habis mama khawatir liat
nilai kamu, sekarang kelas 3 penentuan.. sekarang belajar lebih tekun &
lebih teliti, jangan malu untuk bertanya kalau gak ngerti... ya... sama mama
didoain setiap saat.. selamat belajar..”.
Isi pesan singkat itu membuat sekujur tubuhku terasa hangat
sampai aku hampir meneteskan air mata. Setelah membacanya aku pun langsung
membalasnya dengan ucapan maafku sendiri dan berterima kasih kepada mama karena
terus berada di sampingku disaat senang dan susah. Ketika istirahat tiba, aku
pun langsung memberitahukan isi pesan singkat itu kepada temanku, dan ia pun
bilang kalau ia juga merasa senang karena aku bisa menyelesaikan masalahku
dengan mama.
Ketika di rumah, keadaanku dengan mama sudah tak terasa
tegang lagi. Kini berbicara dengan mama pun tidak kaku, dan kami pun kembali
mengobrol dan bercanda lagi. Meskipun permasalahan ku dengan mama sudah
berakhir untuk saat ini, tetapi aku masih memegang erat - erat janji atau
ambisiku itu kepada diriku sendiri..sampai sekarang..
SELESAI
![]() |

No comments:
Post a Comment