Saturday, February 18, 2012

kokok


Hari Minggu yang kelebih panas itu memang cocok sekali untuk suasana yang kaku dan sedikit mencekam itu. “Bagaimana ini? nilai matematikanya kok jelek banget”, ucap mama tiba – tiba sambil menyetrika baju, “hmm? Nilai apa ma?”, jawabku sambil menekan tombol remote tv. “udah jelas kan? Ya nilai UTS nya lah!”, kata mama dengan sedikit meninggikan nadanya.

Seketika aku pun mengalihkan pandanganku dari tv ke mama “ma, kita kan udah bahas ini seminggu yang lalu..udahlah gak usah dibawa-bawa lagi..”, kataku dengan nada sedikit memelas. “ck.. kalo soal kayak gini ya gak bisa dilupain begitu aja dek!”, ketus mama. “dek, mama bilangin ya? Kelas 3 itu sudah penentuan, kamu itu harusnya lebih rajin lagi! Jangan main laptop terus tiap hari!”, seru mama. “kamu ini! sarana kamu itu udah lengkap! Ada buku, laptop, sama internet. Harusnya sarana itu kamu manfaatkan buat pelajaran! Bukannya malah di buat main game mulu tiap hari!!” Ucap mama panjang lebar.
Aku yang terdiam saja sedari tadi akhirnya membalas perkataan mama “ma! Aku itu nyalain laptop itu gak cuma main game, aku juga ngerjain tugas ma! Ak-” “ah! Kalau kamu pakai laptop sama internet ini cuma buat main aja, mending di jual aja!” potong mama yang gak mendengarkan ucapanku sama sekali. “kalau kamu kayak gini terus, udah deh gak usah diterusin ke RSBI lagi..”, ucap mama.*
Rasanya seperti lidah ini udah gak bisa membalas perkataan mama, akhirnya aku pun diam saja. Remote tv yang tadi kupegang sekarang terbengkalai di meja, tidak ada satupun dari kita yang melihat tv yang masih menyala saat itu, mama karena sedang sibuk menyetrika dan aku yang masih sedikit linglung dengan ucapan mama. “waktu jaman mama dulu ya, buku itu gak mampu beli, gak kayak kamu sekarang.. fasilitasnya lengkap..”, mulai mama.
“gini ya, anaknya temen mama itu ada yang dapat nilai matematika sempurna, tapi tetep aja gak bisa masuk SMA negeri. Nah, dia aja gak bisa, gimana kalau kamu?!”, kata mama tanpa sadar mencelaku. Saat dengar kata – kata itu pun, aku langsung berdiri dari kursi tanpa mengucapkan sepatah katapun dan langsung menuju kamar dan pura – pura tidak mendengar mama yang tidak henti – hentinya mengomel.
Saat di kamar aku pun langsung membantingkan tubuhku ke kasur dan menangis, perasaanku rasanya campur aduk antara marah dan sedih. Mungkin aku bisa dibilang cengeng, karena menangis hanya karena hal seperti itu saja. Semuanya berawal karena pembagian raport sisipan yang dibagikan sekitar satu Minggu yang lalu. Saat aku tunjukkan kepada papa dan mama, papa hanya bilang “nah, ini pertanda kalau kamu harus lebih rajin belajar lagi..”, sedangkan mama sudah mengomel saja dari satu minggu yang lalu, terutama tentang nilai matematika ku karena paling jelek dari nilai yang lain.
Kalau melihat sifat mama sih aku sudah memaklumi kalau mama itu pasti susah melupakannya begitu saja. Tapi... mama sudah mulai membanding – bandingkanku dengan anak dari teman mama itu. Kalau aku itu dimarahi seberapa saja masih kuat, tetapi kalau sudah mulai dibandingkan sama orang lain itu pasti saja ada rasa perih dalam hati seperti mencabik – cabik tubuhku.
Sudah terasa berjam – jam aku merenungkan diri di kamar, daftar ambisiku yang sudah banyak itu pun bertambah satu lagi. Aku berambisi untuk menjadi jauh lebih baik, dan jauh melebihi apa yang diharapkan oleh mama. Mungkin saat ini aku layaknya sebuah rumput kecil tak berguna, tetapi tunggu saja.. tidak lama lagi aku kan mekar dan menjadi bunga yang anggun dan berguna.
Setelah aku memantapkan hati, aku pun keluar dari kamarku. Aku memang sengaja berjalan dan menghindari tatapan mama yang seperti tusukan belati itu. Karena aku tahu, setelah debat kecil itu pasti akan terasa kaku saat berbicara dengan mama. Hari pun kulanjutkan tanpa berbicara dengan mama sama sekali.
Keesokan harinya keadaanku dengan mama masih terasa kaku, sehingga aku tak berbicara kepada mama kecuali untuk meminta izin berangkat ke sekolah. Saat di sekolah aku pun curhat kepada temanku tentang keteganganku dengan mama untuk menenangkan hatiku. Setelah berbicara dengan temanku itu, aku merasa menyesal dan berpikir ‘kayaknya, aku harus minta maaf deh sama mama...’. Tapi karena nyaliku yang ciut itu aku pun tidak berani meminta maaf kepada mama sampai keesokan harinya.

Hari selanjutnya ketika jam pelajaran, tiba – tiba hpku bergetar karena ada pesan. Betapa terkejutnya diriku ketika melihat kalau pesan itu dari mama. Aku pun membuka pesan itu secara diam – diam agar guru tidak melihat. Pesan itu berbunyi “dek, maafin mama ya.. habis mama khawatir liat nilai kamu, sekarang kelas 3 penentuan.. sekarang belajar lebih tekun & lebih teliti, jangan malu untuk bertanya kalau gak ngerti... ya... sama mama didoain setiap saat.. selamat belajar..”.
Isi pesan singkat itu membuat sekujur tubuhku terasa hangat sampai aku hampir meneteskan air mata. Setelah membacanya aku pun langsung membalasnya dengan ucapan maafku sendiri dan berterima kasih kepada mama karena terus berada di sampingku disaat senang dan susah. Ketika istirahat tiba, aku pun langsung memberitahukan isi pesan singkat itu kepada temanku, dan ia pun bilang kalau ia juga merasa senang karena aku bisa menyelesaikan masalahku dengan mama.
Ketika di rumah, keadaanku dengan mama sudah tak terasa tegang lagi. Kini berbicara dengan mama pun tidak kaku, dan kami pun kembali mengobrol dan bercanda lagi. Meskipun permasalahan ku dengan mama sudah berakhir untuk saat ini, tetapi aku masih memegang erat - erat janji atau ambisiku itu kepada diriku sendiri..sampai sekarang..

SELESAI



Rounded Rectangular Callout: Nama : Kirana
Kelas : IX-C/14
 

No comments:

Post a Comment